Depok | Sketsa-online.com — Rencana pemasangan kamera pengawas (CCTV) di berbagai titik lingkungan sekolah kembali menjadi perbincangan publik.
Menanggapi hal tersebut, tokoh pendidikan Kota Depok, H. Acep, menyampaikan pandangannya bahwa pendekatan tersebut bukanlah solusi mendasar untuk menjawab persoalan krisis moral yang tengah melanda dunia pendidikan.
“Jika pendidikan harus diawasi dari setiap sudut oleh kamera, maka itu menandakan bahwa keteladanan telah tergantikan oleh sistem pengawasan,” ujar H. Acep dalam keterangannya kepada Sketsa-online.com, Minggu (1/6).
Menurut H. Acep, keberadaan CCTV di sekolah pada dasarnya hanya merupakan bentuk penanganan sementara terhadap degradasi nilai-nilai moral di lingkungan pendidikan.
Ia menekankan bahwa permasalahan utama bukan terletak pada kurangnya alat pengawasan, pagar sekolah yang tinggi, atau kerapihan seragam, melainkan pada berkurangnya sosok pendidik yang mampu menjadi panutan serta membentuk karakter peserta didik secara utuh.
Gagasan pemasangan CCTV di sekolah -sekolah Kota Depok mencuat sebagai respons terhadap meningkatnya berbagai kasus pelanggaran disiplin dan tindakan kekerasan di lingkungan sekolah.
Sebagian kalangan menilai bahwa keberadaan CCTV dapat menjadi alat pencegah dan deteksi dini atas potensi perilaku negatif di kalangan siswa.
Namun demikian, H. Acep menyoroti bahwa kebijakan ini mencerminkan menurunnya kepercayaan terhadap sekolah sebagai ruang aman dan nyaman bagi proses tumbuh kembang anak.
“Ketika nilai-nilai tidak lagi dibimbing oleh figur pendidik, tetapi justru dibatasi oleh sorotan kamera, maka pendidikan telah kehilangan ruhnya,” imbuhnya.
Lebih lanjut, H. Acep mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak diambil secara sepihak. Ia mendorong Dinas Pendidikan Kota Depok untuk melakukan kajian komprehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti Dewan Pendidikan, Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS), organisasi profesi guru, serta tokoh masyarakat yang peduli terhadap pendidikan.
Kota Depok dinilai memiliki kompleksitas tersendiri dalam dunia pendidikan, baik dari segi jumlah peserta didik, dinamika sosial, hingga tingginya ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pendidikan.
Oleh karena itu, menurut H. Acep, setiap kebijakan yang menyangkut tata kelola sekolah harus dipertimbangkan secara matang.
“Jika tidak berhati-hati, kita berisiko menjadikan sekolah sebagai tempat penuh kecurigaan, alih-alih sebagai lingkungan yang menumbuhkan kepercayaan dan membangun karakter,” tuturnya.
H. Acep menegaskan bahwa penanaman nilai moral tidak dapat disubstitusi oleh alat pengawasan. Menurutnya, pendidikan yang sejati ditanamkan dalam hati dan jiwa, bukan diawasi melalui perangkat teknologi.
Sebagai tokoh pendidikan yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan mutu pendidikan di Kota Depok, H. Acep menggarisbawahi pentingnya penguatan peran guru sebagai pendidik yang mampu menginspirasi.
Ia juga mengusulkan agar ruang-ruang pembelajaran dirancang untuk menumbuhkan karakter, empati, dan kepercayaan diri peserta didik, bukan semata-mata mengontrol perilaku mereka.
“Pendidikan kita hari ini memerlukan guru-guru yang menyala, yang mampu menghidupkan nilai dan semangat dalam diri siswa. Bukan sekadar kamera yang merekam setiap gerak-gerik mereka. Jika sekolah kehilangan fungsinya sebagai tempat pembentukan jiwa, maka yang tersisa hanyalah bangunan fisik dan seperangkat aturan,” pungkasnya. (el’s)
