Depok | Sketsa-online.com – Pengamat pendidikan, Doni Koesoema A., menegaskan bahwa maraknya kasus kekerasan, khususnya pelecehan yang dilakukan oleh oknum guru terhadap murid di sejumlah sekolah di Kota Depok, mendorong perlunya pemasangan kamera pengawas (CCTV) sebagai langkah darurat.
Doni mendukung penggunaan CCTV, dengan catatan bahwa penerapannya harus tetap mengedepankan etika, privasi, dan nilai-nilai pendidikan.
Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Depok menyita perhatian publik. Salah satu peristiwa mencuat di sebuah SMP Negeri di Sukmajaya, ketika seorang oknum guru dilaporkan melakukan pelecehan terhadap belasan siswi.
Situasi ini mempertegas urgensi perlindungan nyata bagi siswa di lingkungan sekolah.
Menurut Doni, CCTV merupakan alat penting untuk menciptakan rasa aman di lingkungan sekolah.
“Saya setuju dengan adanya CCTV, selama penggunaannya tidak melanggar ruang-ruang privat. Di tempat umum seperti koridor, gerbang sekolah, dan lorong menuju toilet, pemasangan CCTV masih dapat dibenarkan untuk mendukung keamanan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tanggung jawab atas penggunaan CCTV sepenuhnya berada di tangan pihak pengelola sekolah.
“CCTV hanyalah alat. Jika pengelola sekolah tidak memiliki integritas dan tanggung jawab moral, maka alat ini pun bisa disalahgunakan. Pengawasan yang efektif bergantung pada hati nurani, bukan teknologi semata,” kata Doni.
Melihat tingginya angka kekerasan di sejumlah sekolah di Kota Depok, terutama dengan guru sebagai pelaku dan murid sebagai korban, Doni menyebut CCTV sebagai bagian dari solusi penting untuk mencegah terjadinya korban baru.
“Ketika kekerasan terjadi hampir di setiap sudut sekolah dan tidak ada rasa saling menghormati, maka penggunaan CCTV menjadi langkah darurat yang perlu direalisasikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pemasangan CCTV adalah langkah darurat yang tak bisa lagi ditunda, selama penerapannya tetap menjunjung budaya dan etika.
“Jika tingkat kekerasan tinggi, tentu kita tidak bisa membiarkan situasi itu berlangsung tanpa tindakan. CCTV bisa membantu mengantisipasi,” tambahnya.
Meski mendukung pemasangan CCTV, Doni menolak penggunaannya di ruang-ruang privat.
“Privasi, keamanan, dan kenyamanan adalah tiga prinsip penting dalam dunia pendidikan. Tidak boleh ada yang dikorbankan,” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, Doni menekankan bahwa keamanan sejati di sekolah harus dibangun melalui budaya saling percaya dan menghormati.
“CCTV hanyalah pelengkap. Guru, orang tua, teman sebaya, dan masyarakat yang peduli justru merupakan ‘kamera hidup’ yang lebih efektif dalam menjaga anak-anak,” tutupnya.
Dengan pendekatan yang proporsional dan etis, Doni meyakini CCTV dapat menjadi bagian dari sistem perlindungan di sekolah tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan. (el’s)
