Depok | Sketsa-online. com – Akademisi sekaligus penulis asal Depok, Dodo Lantang, resmi meluncurkan buku puisi terbarunya yang berjudul Mentang-Mentang Oligarki pada Sabtu (24/05) di JPW Garden, GDC, Depok.
Karya ini lahir dari kegelisahan pribadinya terhadap ketimpangan sosial dan perilaku oligarki yang kian nyata di berbagai lapisan masyarakat.
Dalam acara peluncuran, Dodo mengungkapkan bahwa proses kreatif penulisan Mentang-Mentang Oligarki berangkat dari pengamatan mendalam dan kegelisahan batin terhadap ketimpangan, baik dalam skala nasional maupun lokal.
“Saya melihat adanya perilaku oligarki dalam berbagai bentuk. Dari situlah kata ‘oligarki’ menjadi titik awal yang berkembang menjadi tema utama dalam buku ini,” ujarnya.
Penulisan buku ini diperkuat melalui dialog panjang bersama akademisi, jurnalis, dan rekan sejawat. Diskusi tersebut memperkaya narasi dalam menggambarkan realitas sosial melalui puisi.
“Mentang-Mentang Oligarki adalah bentuk perlawanan kecil saya. Ketika saya tidak bisa berteriak atau melawan secara fisik, saya memilih menulis. Puisi-puisi ini adalah fragmen dari kenyataan. Bagaimana mungkin laut dan sungai bisa disertifikasi? Jangan-jangan, kelak harga diri pun bisa,” katanya dengan nada kritis.
Bagi Dodo, puisi tidak melulu tentang cinta, tetapi juga menjadi ruang untuk menyuarakan isu politik, hukum, dan kemanusiaan. Semangat ini turut ia bawa ke ruang kelas, mendorong mahasiswa bimbingannya untuk menulis dan menerbitkan buku puisi sebagai bagian dari kurikulum.
“Sastra, terutama puisi, selama ini ditempatkan di ruang sempit. Padahal, puisi bisa divisualisasikan, dimusikalisasikan, bahkan difilmkan. Ini yang saya coba tanamkan kepada mahasiswa saya,” tambahnya.
Menariknya, Mentang-Mentang Oligarki tidak dijual secara komersial. Buku ini dibagikan secara gratis kepada siapa pun yang berminat, sebagai bentuk komitmen Dodo terhadap pentingnya literasi yang inklusif.
“Literasi bukan soal uang. Kalau butuh buku ini, saya siap membagikannya,” tegasnya.
Melalui Mentang-Mentang Oligarki, Dodo berharap akan lahir penulis-penulis baru yang berani bersuara. Ia menutup dengan pesan dari Putu Wijaya, gurunya dalam dunia kepenulisan:
“Menulislah saat tidak ingin menulis. Inspirasi tidak perlu ditunggu, tapi diciptakan”. (el’s)
