Depok | Sketsa-online.com – Tradisi ‘nyedengin baju’ yang dilakukan masyarakat Kota Depok menjelang Lebaran tidak hanya menjadi simbol kebahagiaan, tetapi juga membuka peluang besar bagi pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor konveksi dan fashion.
Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun ini melibatkan kebiasaan masyarakat memesan pakaian baru untuk merayakan Hari Raya Idulfitri. Fenomena tersebut mendorong tingginya permintaan terhadap jasa penjahit dan perajin busana lokal, sehingga memberikan dampak positif terhadap ekonomi daerah.
Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, Hamzah, menyoroti besarnya potensi ekonomi dari tradisi ini. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap pelestarian budaya lokal yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami sangat mendukung. Bahkan, banyak anggota DPRD Depok yang mengenakan busana bergaya tahun 70-an saat perayaan Lebaran Depok. Ini menunjukkan komitmen kami dalam melestarikan budaya lokal yang berdampak positif bagi UMKM,” ujarnya pada Rabu (14/05).
Lebih lanjut, Hamzah mengungkapkan bahwa DPRD tengah mempersiapkan program khusus yang akan dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Program bertajuk “Jualan Sama-sama, UMKM Naik Kelas” ini bertujuan mendukung pelestarian tradisi lokal sekaligus mengembangkan UMKM melalui pendekatan berbasis budaya.
“Insyaallah, program ini akan masuk dalam RPJMD. Kami ingin memastikan bahwa budaya lokal seperti ‘nyedengin baju’ menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” tambahnya.
DPRD juga membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mengembangkan tradisi ini menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan.
Harapannya, “nyedengin baju tidak hanya menjadi bagian dari perayaan tahunan, tetapi juga menjadi identitas budaya dan berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan di Kota Depok”, tutup Hamzah. (el’s)
