Solusi Sampah Organik, Universitas Pertamina Bawa Inovasi Komposter Putar ke Desa Barengkok

Depok|Sketsa – Sampah rumah tangga masih menjadi tantangan serius dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia. Dari sekitar 70 juta ton timbulan sampah per tahun, 62 persen di antaranya berupa sampah organik yang sebagian besar belum terkelola.

Di Kabupaten Bogor, volume sampah harian bahkan mencapai 2.766 ton pada 2024, menambah berat beban pengelolaan.

Menjawab persoalan tersebut, dosen dan mahasiswa Universitas Pertamina (UPER) menggagas program Gerakan Kompos Mandiri Desa Barengkok.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan fokus pada edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik, serta memperkenalkan inovasi berupa “Komposter Putar”.

“Desa Barengkok kami pilih karena masyarakatnya punya potensi besar untuk bergerak dalam gerakan peduli lingkungan, tetapi masih terbatas akses pada teknologi sederhana yang bisa dipakai sehari-hari.

Karena itu, kami merancang komposter putar yang mudah digunakan semua kalangan, termasuk ibu rumah tangga dan lansia,” ujar Adhitya Ryan, Ketua Tim PkM Gerakan Kompos Mandiri, Senin (25/08).

Komposter putar rancangan tim UPER dibuat dari bahan lokal yang mudah diperoleh. Desainnya berupa tong berporos yang diletakkan di atas rangka besi kokoh, dilengkapi tuas pemutar untuk memudahkan pencampuran bahan organik.

Berbeda dengan komposter statis, alat ini memiliki keunggulan berupa proses yang lebih cepat, higienis, dan ramah lingkungan.

“Dengan sistem rotasi, komposter ini mampu menghasilkan pupuk kompos hanya dalam 2–4 minggu. Padahal, komposter statis biasanya membutuhkan waktu 2–3 bulan. Percepatan ini terjadi karena pencampuran bahan lebih merata dan sirkulasi udara lebih optimal,” tambah Ryan.

Selain kecepatan, komposter putar juga menawarkan kenyamanan bagi pengguna. Desainnya yang tertutup rapat mampu menekan bau tidak sedap serta mencegah masuknya serangga.

Warga cukup memasukkan sisa makanan, daun kering, atau limbah dapur, kemudian menambahkan sekam padi atau serbuk gergaji untuk menjaga keseimbangan nutrisi.

Hasilnya berupa pupuk kompos yang bisa dimanfaatkan untuk kebun rumah, pertanian warga, bahkan berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menegaskan program ini sejalan dengan pengembangan 11 Center of Excellence (CoE) universitas, khususnya di bidang energi, lingkungan, dan keberlanjutan.

Menurutnya, kegiatan ini mencerminkan kolaborasi lintas disiplin antara dosen dan mahasiswa yang langsung menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Inovasi seperti komposter putar menjadi bukti nyata bahwa hasil riset dan pembelajaran lintas bidang bisa diterapkan secara langsung. Harapannya, gerakan ini bukan hanya mengurangi beban sampah rumah tangga, tetapi juga mendorong kemandirian warga sekaligus kepedulian terhadap lingkungan,” tutup Prof. Wawan.

Dengan adanya inovasi ini, warga Desa Barengkok diharapkan mampu mengelola sampah organik secara mandiri dari rumah masing-masing.

Ke depan, Universitas Pertamina berencana memperluas program serupa ke desa lain agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat luas. (el’s)

 

Komentar